1. Bahan Aktif Farmasi (API - Active Pharmaceutical Ingredient)
Bahan aktif farmasi (API) adalah senyawa utama dalam obat yang bertanggung jawab atas efek terapeutik pada tubuh. API berperan sebagai zat aktif yang bekerja secara farmakologis untuk mengobati, mencegah, atau mendiagnosis suatu penyakit. Penggunaan API harus memenuhi standar kualitas tinggi karena memengaruhi langsung keamanan dan khasiat obat.
Contoh API:- Paracetamol: Digolongkan sebagai analgesik (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam). Banyak digunakan dalam obat flu dan demam karena sifatnya yang relatif aman untuk segala usia.
-
Amoxicillin: Merupakan antibiotik golongan penisilin yang bekerja menghambat pertumbuhan bakteri. Digunakan untuk berbagai infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan dan infeksi kulit.
-
Ibuprofen: Termasuk NSAID (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drug), digunakan untuk meredakan nyeri, inflamasi, dan demam. Sering dijumpai dalam sediaan bebas maupun resep dokter.
2. Eksipien (Excipient)
Eksipien merupakan komponen non-aktif dalam obat yang tidak memiliki efek terapeutik tetapi sangat penting untuk fungsi obat secara keseluruhan. Eksipien membantu pembentukan bentuk sediaan, menjaga stabilitas, mengontrol pelepasan obat, dan meningkatkan kenyamanan penggunaan.
Contoh eksipien:- Laktosa: Digunakan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan tablet karena kestabilannya dan kemampuannya menghasilkan tablet dengan kepadatan baik.
-
Magnesium stearat: Bertindak sebagai pelumas dalam tablet agar tidak lengket selama proses pencetakan.
-
Gelatin: Digunakan dalam kapsul keras maupun lunak. Berfungsi sebagai bahan pembentuk yang mudah larut dalam tubuh.
3. Pelarut dan Penstabil
Pelarut digunakan untuk melarutkan API agar dapat dikonsumsi dalam bentuk cair, sedangkan penstabil memastikan formulasi tetap efektif selama masa simpan. Keduanya harus memenuhi persyaratan keamanan dan farmakopoe.
Contoh:- Air steril untuk injeksi: Digunakan dalam sediaan parenteral dan harus bebas dari mikroorganisme.
-
Etanol: Pelarut organik yang umum digunakan dalam ekstrak tanaman atau sediaan topikal.
-
Propilen glikol: Pelarut dan humektan yang membantu menjaga kelembaban dan stabilitas produk.
4. Pengawet dan Antioksidan
Digunakan untuk memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas obat dari kerusakan akibat mikroba atau oksidasi. Penggunaan bahan ini harus disesuaikan dengan dosis aman untuk pasien.
Contoh:- Natrium benzoat: Digunakan dalam sirup dan sediaan cair untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
-
BHT (Butylated Hydroxytoluene) dan BHA (Butylated Hydroxyanisole): Antioksidan yang digunakan dalam sediaan lemak atau minyak agar tidak mudah rusak.
5. Pewarna dan Perisa
Bahan ini meningkatkan estetika dan kenyamanan pasien saat mengonsumsi obat, terutama anak-anak. Meskipun tidak mempengaruhi efek obat, penggunaannya harus dikontrol dan sesuai peraturan.
Contoh:- Tartrazin: Pewarna sintetik berwarna kuning yang sering digunakan dalam tablet dan sirup.
-
Vanilin: Perisa yang memberikan rasa vanila, banyak digunakan dalam sirup dan sediaan oral.